Jumat, Februari 13, 2026
spot_img

PLTP Cisolok–Cisukarame Masuk Tahap Sosialisasi Fokus pada Mitigasi Risiko

Sukabumi– Suasana pagi di wilayah kaki pegunungan Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang masih kental dengan kehidupan adat terasa berbeda dari biasanya. Masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan pekebun, serta masih menjaga tradisi kearifan lokal turun-temurun, tampak berkumpul sejak pagi.

Warga dari empat dusun di Desa Sirnarasa berbondong-bondong mendatangi kantor desa untuk mengikuti sosialisasi rencana pengembangan proyek panas bumi di wilayah mereka, yang berada di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, (12/02/2026).

Kehadiran warga mencerminkan besarnya perhatian masyarakat terhadap pemanfaatan ruang hidup mereka yang selama ini menjadi sumber penghidupan sekaligus bagian dari identitas budaya lokal. Sementara itu kegiatan sosialisasi yang diinisiasi oleh PT Daya Mas Cisolok Geothermal (DMCG) untuk menjelaskan aspek keamanan teknis dan manfaat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Cisolok–Cisukarame bagi masyarakat.

Selain masyarakat acara dihadiri perwakilan Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM Republik Indonesia, Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi, bersama unsur Forkopimcam, tokoh adat dan tokoh agama.Kehadiran para pemangku kebijakan dan masyarakat memperkuat transparansi informasi serta pengawasan proyek agar tetap mengutamakan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan warga lokal.

Tak hanya itu pakar pastikan resiko longsor dan gempa yang dihasilkan oleh proyek panas bumi sangat rendah hal tersebut disampaikan oleh pakar vulkanologi Nana Sulaksana, ia menjelaskan bahwa pengambilan uap panas bumi dilakukan melalui lubang kecil yang diperkuat pipa baja sehingga tidak mengubah struktur gunung.

“Secara teknis, energi panas bumi menerapkan standar pengamanan lereng yang ketat melalui penataan drainase dan dinding penahan tanah. Kehadiran proyek justru memitigasi risiko longsor secara alami melalui penguatan struktur di area kerja yang terencana,” jelas Prof. Nana.

Sementara itu, pakar geologi Dewi Gentana menegaskan aktivitas panas bumi tidak memicu gempa merusak.“Aktivitas ini tidak memicu gempa merusak lingkungan karena energi yang terlibat jauh lebih kecil dibandingkan gempa alami. Stabilitas tekanan bawah tanah tetap dijaga melalui sistem reinjeksi. Mikroseismik yang terjadi sangat kecil dan dipantau real-time untuk menjamin keamanan pemukiman warga,” tegas Dr. Dewi.

Pemerintah mendukung pengembangan panas bumi sebagai solusi energi ramah lingkungan yang menjaga kualitas udara serta produktivitas lahan pertanian. Kolaborasi pemerintah pusat dan daerah juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan bonus produksi bagi desa sekitar wilayah operasional.

Pimpinan proyek PT Daya Mas Cisolok Geothermal (DMCG) Doni Masditok, menegaskan keberhasilan proyek bergantung pada kepercayaan masyarakat.“Kami terus membangun komunikasi yang terbuka agar PLTP Cisolok dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dari sisi energi, sosial, maupun lingkungan,” ujarnya.

Ia menegaskan mitigasi menjadi prioritas utama.“Jika studi menunjukkan tanah tidak stabil, rekayasa engineering seperti pembangunan turap, pondasi dalam, hingga pengalihan lokasi akan dilakukan. Mitigasi adalah prioritas,” kata Doni.

Pengelolaan lingkungan dilakukan bersama Taman Nasional Gunung Halimun Salak untuk memastikan biodiversitas tetap terjaga. Meski wilayah kerja panas bumi mencapai sekitar 15.000 hektare, area fisik yang digunakan hanya sekitar 20 hektare atau sekitar 0,1 persen. Sebagian besar kawasan tetap menjadi hutan atau lahan masyarakat.

Selain itu, kontrak kerja Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola perusahaan diberikan dalam jangka panjang hingga 30 tahun ke depan.

Skema ini memberikan kepastian investasi sekaligus menjamin pengelolaan sumber daya panas bumi dilakukan secara berkelanjutan dan terencana. Perusahaan juga menjalankan program tanggung jawab sosial seperti renovasi fasilitas ibadah dan bantuan sosial sebagai bentuk pendekatan dengan masyarakat.

PLTP Cisolok–Cisukarame merupakan bagian dari agenda transisi energi nasional dengan kapasitas awal 2 x 25 MW dan potensi total sekitar 45 MW. Listrik yang dihasilkan akan dijual kepada PLN sebagai pembeli tunggal dan didistribusikan ke rumah tangga, fasilitas publik, serta sektor industri.

“Seluruh listrik yang kami hasilkan akan didistribusikan oleh PLN untuk menerangi rumah warga, sekolah, dan mendukung aktivitas ekonomi,” jelas Doni.

Proyek ditargetkan mencapai tahap operasi komersial pada 2029 dengan penyerapan tenaga kerja hingga sekitar 1.000 orang pada puncak pembangunan. Sosialisasi berakhir dengan respons positif dari masyarakat. Warga menyatakan telah memahami penjelasan teknis dan manfaat proyek.

“Alhamdulillah sudah clear. Warga sudah memahami dan menyepakati agar aktivitas lapangan bisa segera dilanjutkan kembali,” ujarnya.

Dengan pendekatan ilmiah, pengawasan pemerintah, dan keterlibatan masyarakat, proyek PLTP Cisolok–Cisukarame diharapkan menjadi tonggak penting menuju kemandirian energi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Sukabumi.(Red)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest Articles